Aku Rifatila dan Kafe Tapak Kucing Chapter 1 Mabok
"Selamat datang di Kafe Tapak Kucing~" adalah ucapan yang selalu diucapkan Virtue dan Rifatila di saat pelanggan mendatangi kafe mereka. Sebenarnya kafe ini milik Rifatila, Virtue hanya pegawai biasa saja.
Intinya udah tau la kan? Yang cewek sebelah kiri itu namanya Rifatila, yang cowok sebelah kanan itu namanya Virtue, yang di tengah itu logo tapak kucingnya.
Dah la, itu aja dulu untuk awalannya.
![]() |
| Kiri Rifatila, Kanan Virtue, tengah logo Tapak Kucing |
Tiba-tiba datanglah seorang bapak-bapak dengan dasi terikat di kepalanya. Iya, di kepalanya, bukan leher. Kemejanya juga enggak terkancing rapi. Melihatnya aja Virtue sudah kesal apalagi saat bapak itu berteriak.
"Woi, birnya satu botol."
WTF? -_-
Virtue terkejut dengan pesanan bapak itu. Untung saja saat itu kafe sedang sepi walaupun memang biasanya sepi. Tapi gak kek gitu jugalah mesannya, masih siang gini juga, ucap Virtue dalam hati.
"Maaf, Pak, ini kafe untuk semua umur," ucap Virtue dengan lemah lembut.
"Maaf, Pak, ini kafe untuk semua umur," ucap Virtue dengan lemah lembut.
![]() |
| WTF?! |
"Eeee, lateung, di situlah paoknya kau. Kau liat ini ya," kata Bapak itu sambil menghapus menu yang tertera papan tulis hitam yang tertempel di dinding. Sebenarnya dia juga pengen ngapus tulisan menunya, tapi tangannya gak sampe.
Dengan kapur yang ada di sana, ia pun menggambarkan sebuah diagram himpunan.
"Semua umur tadi kau bilang kan? Apa 18 tahun ke atas itu tergolong umur? YA IYA," belum sempat Virtue menjawab, bapak itu sudah menjawab sendiri pertanyaannya, "Apa 13 tahun ke atas juga? IYA JUGA. 7 tahun ke atas? IYA. 3 tahun ke atas? IYA JELAS."
Suara bapak itu menggema seisi kafe. Virtue hanya terpelongok melihat penjelasan Bapak ini. Merasa puas, ia pun kembali duduk di kursinya tadi.
![]() |
| (SU(3+(7+(13+(18+))))) |
Tapi Rifatila berbeda dengan Virtue. Dia tetap tenang dan meletakkan dua buah bungkusan dari daun pisang yang ditusuk lidi dan secangkir air putih ke meja di hadapan Bapak itu.
"Apa ini?" tanya Bapak itu.
"Itu namanya tapai atau biasa disebut tape. Silahkan dicoba."
"Hah? Tape? Cemana makannya ini?" tanya Bapak itu keheranan, namun akhirnya ia berhasil membuka sendiri bungkusan daun pisang itu. Sejenak ia kebingungan lagi, lalu dia pun menggunakan lidi penusuk daun pisang itu untuk membantunya memakan tapai pulutnya.
![]() |
| Wut? Tapai? Tape? |
Sembari bapak itu menikmati tapai pulutnya, Rifatila menghapus beberapa bagian diagram himpunan yang digambar Bapak itu. Dia pun membuat diagram himpunan yang baru, tanpa arsiran yang menurutnya kurang artistik.
"Jadi Pak, apa umur 3 tahun ke bawah termasuk yang belum punya gigi boleh makan apa saja?"
"Ya enggak lah," katanya.
"Trus apa yang 18 ke bawah boleh minum bir dan ngerokok suka-suka?"
"Wah, ya enggak lah, rusak kalau anak-anak sudah begitu dari kecil."
Rly? Virtue berkomentar dalam hatinya, orang yang tadinya mesan bir di kafe siang-siang gini ngomong kek gitu?
"Jadi Pak, kafe semua umur ini bukan soal berapa usia pelanggannya tapi kami menyediakan apa yang bisa dikonsumsi tanpa mengganggu usia lainnya."
Hmm, tapi diagramnya sepertinya kurang cocok, pikir Virtue lagi.
"Jadi Pak, apa umur 3 tahun ke bawah termasuk yang belum punya gigi boleh makan apa saja?"
"Ya enggak lah," katanya.
"Trus apa yang 18 ke bawah boleh minum bir dan ngerokok suka-suka?"
"Wah, ya enggak lah, rusak kalau anak-anak sudah begitu dari kecil."
Rly? Virtue berkomentar dalam hatinya, orang yang tadinya mesan bir di kafe siang-siang gini ngomong kek gitu?
"Jadi Pak, kafe semua umur ini bukan soal berapa usia pelanggannya tapi kami menyediakan apa yang bisa dikonsumsi tanpa mengganggu usia lainnya."
Hmm, tapi diagramnya sepertinya kurang cocok, pikir Virtue lagi.
![]() |
| Om nom nom nom |
"Oh okelah, kalau begitu, aku pun juga sudah puas dengan tape ini. Rasanya seperti ada alcoholnya, mantap."
"Jangan lupa bayar ya, Pak," ucap Rifatila sambil tersenyum.
"Oh iya, jelaslah, nah aku kasi segini aja, kembaliannya silahkan ambil."
Rifatila memandang uang yang diletakkan Bapak itu di atas meja. Memang pas segitulah biaya 2 tapai pulut dan 1 air putih.
"Terima kasih," jawab Rifatila.
Ketika bapak itu hendak keluar kafe, iya berhenti sejenak, berputar lalu mengacungkan jembolnya. "Mantap juga kafe ini, lain kali aku akan datang lagi."
![]() |
| Ntap! |
Tapi Rifatila tidak menjawab perkataan Bapak itu dan hanya tersenyum.
Dan hanya Bapak itulah pengunjung Kafe Tapak Tucing hari ini.
Dan hanya Bapak itulah pengunjung Kafe Tapak Tucing hari ini.
alternative link download





