Diary of Emuria
Untuk Daniel
Aku memutuskan untuk menulis buku ini sebelum aku memulai petualanganku keliling dunia. Menghindari beberapa orang, salah satunya kamu, Daniel. Tidak usah buru-buru bertanya mengapa aku menghindarimu. Hal perlu kamu ketahui pertama kali saat membaca buku ini adalah kita telah bertemu lalu berpisah.
Kamu mungkin tidak mengingat segalanya yang aku ingat. Namun aku mengingat segalanya. Karena kita telah bertemu belasan kali. Di lini masa yang berbeda dengan ingatanmu yang berbeda juga. Namun, semuanya tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Hidup bersama denganku tak memberimu kebahagian. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan waktu ke masa lalu dan memutuskan untuk tidak akan pernah bertemu denganmu. Meskipun betapa inginnya aku ingin bertemu denganmu, hidup bersamamu, seperti masa lalu.
Mungkin apa yang kutuliskan di sini terkesan tidak logis. Tapi ini semua nyata. Tentang bagaimana aku dapat mengulang kembali waktu. Tapi sebelum itu, aku akan bercerita tentang pertemuan kita yang pertama. Waktu itu kamu adalah seorang siswa SMP dan aku adalah siswa SD yang bersekolah di Indonesia. Aku sekolah di sana karena orang tuaku adalah seorang duta.
Saat itu kamu sedang pulang sekolah dan mendengar suara seekor anak kucing dalam selokan sedalam satu meter. Tanpa berpikir panjang kamu langsung masuk dan menolong kucing itu. Begitu kamu berhasil mengeluarkan kucing itu, aku pun langsung mengambilnya dan berterima kasih padamu. Itu adalah kucingku yang masih kecil sekali, bahkan dia belum diberi nama. Aku mengajakmu ke rumahku untuk membersihkan kucing itu. Dan saat itulah kita berkenalan. Aku menanyakan padamu apakah kamu punya usul untuk nama anak kucing yang baru kamu selamat itu. Spontan kamu menjawab, �Riemu.�
�Kamu tahu, namamu �kan Emuria, kalau diubah-ubah sedikit, jadi Riemu,� begitulah penjelasanmu. Kita tertawa karena leluconmu yang aneh. Tapi aku senang dengan nama itu, Riemu.
Kita tidak pernah berada dalam sekolah yang sama, ketika kamu masuk SMA, aku masuk SMP. Meskipun begitu sesekali kita bertemu. Tanpa berencana untuk bertemu, kita seperti dipertemukan oleh takdir. Aku selalu merasa nyaman saat berbincang denganmu. Saat kamu sedang berkumpul dengan teman-temanmu lalu kita bertemu, kamu pun segera menghampiriku dan bercerita berbagai hal kepadaku. Saat kamu berkata ingin bertemu dengan Riemu, aku hanya dapat menundukkan kepala. Dan saat itu kamu langsung mengerti dan mencoba menghiburku.
Lalu tibalah saatnya kamu memasuki dunia kuliah dan aku adalah seorang siswi SMA. Kamu semakin lebih sering ingin bertemu denganku. Dan kita pun sudah semakin sering bertemu, minimal pada hari Minggu. Kita berbincang tentang berbagai hal yang berbeda di dunia kita yang dibatasi oleh jenjang usia dan pendidikan. Kamu juga tidak lupa memperkenalkanku dengan saudara kembarmu. Kamu bilang sebagian besar orang tidak dapat membedakan kalian. Namun, aku langsung dengan mudah membedakannya, mungkin karena kita sudah terlalu sering bertemu. Hingga tiba saatnya aku tamat kuliah dan kamu pun sudah berkerja kamu melamarku. Aku sungguh bahagia. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menuliskan perasaanku pada buku ini.
Namun semuanya tidak seindah yang kubayangkan. Suatu hari saat kita sedang berlibur, sebuah bencana alam terjadi. Mobil yang kita kendarai tertimpa batu dari tanah longsor. Kamu langsung melepas sabuk pengamanmu dan memelukku. Atap besi yang mencuat menusuk tubuhmu. Kamu menolongku dengan mengorbankan nyawamu. Meskipun begitu aku tidak bisa menerima hal itu. Aku berteriak keras dan seketika aku melihat sekelilingku bergerak mundur dengan cepat. Seperti waktu yang bergerak melawan arahnya. Aku tidak tahu bagaiman aku melakukannya, tapi tiba-tiba saja kita masih berada di rumah dan belum pergi berlibur.
Rasanya seperti baru saja bermimpi di siang bolong. Tapi tetap saja aku dapat merasakan kejadian itu begitu nyata. Aku meminta padamu untuk membatalkan liburan kita. Kamu pun menyetujui permintaanku. Malamnya, sebuah berita tentang tanah longsor itu pun benar-benar terjadi. Dan pada saat itu aku mulai merasa aku ini berbeda.
Beberapa bulan berlalu tanpa terjadi hal-hal yang membuatku dapat mengembalikan waktu. Aku sendiri bahkan sudah tidak tahu bagaimana caraku melakukannya. Namun pagi itu aku harus melakukannya lagi. Rumah kita diserang oleh orang-orang bersenjata. Lalu kamu pun melindungiku lagi dengan mengorbankan dirimu. Aku pun kembali memutar kembali waktu cukup dengan cara yang bahkan aku tidak ketahui.
Ketika aku tidak bisa menerima kenyataan di hadapanku. Waktu pun berjalan mundur dan kembali seperti biasa setelah cukup jauh. Kali ini sangat jauh bahkan aku harus kembali ke saat di mana kamu melamarku. Kali ini aku menolak lamaran itu, mungkin saja dengan keputusanku ini sesuatu akan berubah. Namun nyatanya tidak. Kamu tidak menyerah dan tetap melamarku. Dalam kebingunganku, aku pun memutar kembali waktu hingga pada hari kita bertemu untuk pertama kalinya.
Aku memutuskan untuk menghindarimu. Tidak pernah berkenalan denganmu. Memandangmu dari kejauhan. Melihat tawa candamu dari meja yang berbeda denganmu. Melihatmu berjalan dengan orang lain. Aleria dan Daniella, mereka berdua adalah nama yang aku ingat. Mungkin sekarang kamu sudah berbahagia dengan salah satu dari mereka. Mungkin juga bukan salah satu dari mereka.
Beberapa saat lagi aku akan pergi meninggalkan rumah ini. Aku ingin menghilangkan ingatanku tentang dirimu. Semua masa lalu yang hanya terkenang olehku. Mungkin jika kita berjumpa, aku bahkan tidak ingat siapa dirimu.
Love you,
Emuria Halati
---
Aku terdiam sejenak. Emuria adalah Riemu? Dan dia adalah istriku? Tapi di dunia paralel. Lalu siapa Emuria yang menjadi teman khayalanku? Apa itu hanya imajinasiku yang berasal dari ingatanku dari dunia paralel? Semua pertanyaan ini membuatku semakin bingung. Aku mengerti konsep-konsep mesin waktu dan dunia paralel dari film-film yang pernah aku tonton. Tapi aku tidak menyangka semua itu dapat benar-benar terjadi.
Nada dering dari saku celanaku menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benakku. Aku membuka kuncinya dan melihat sebuah pesan di layar smartphone-ku. Dari Dennis, saudara kembarku, sebuah pesan yang sangat aneh.
"Sepertinya kau sudah mengetahuinya, sekarang pergilah ke pelabuhan, aku akan melengkapi penjelasannya."
Kota ini memang berbatasan di pinggir laut Adriatik, salah satu laut di benua Eropa. Tapi bagaimana Dennis bisa tahu aku berada di sini? Aku menutup buku itu dengan rapi dan meninggalkan kamar Emuria. Seluruh pintu rumah itu pun aku kunci sebelum kutinggalkan menuju pelabuhan.
Setiba di pelabuhan yang tidak jauh dari rumah Emuria, Dennis langsung memanggilku. "Jadi, apa yang ingin pertama kali kau tanya?" Itulah kalimat pertama yang diucapkannya saat menghampiriku. Kami berjalan bersebelahan dengan Dennis melangkah sedikit lebih depan. Sepertinya ia sedang menuntunku ke suatu tempat.
"Apa kau tahu semuanya dan tidak menceritakannya padaku?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kau pasti tidak akan percaya."
"Bagaimana kau bisa tahu semuanya?"
"Karena aku seorang time reader, begitulah mereka menyebutkannya kepadaku."
Sebelum aku ingin bertanya apa itu time reader, aku harus bertanya terlebih dahulu kepadanya, "Kita mau ke mana?" Pertanyaan itu keluar dari mulutku ketika aku melihat Dennis sudah naik ke tangga yang terhubung dengan sebuah kapal pesiar.
"Tentu saja, menjemput istrimu bukan?"
alternative link download