Against the World Series Special Dont Paint My Dance with Your Heart


Daniella                                                                              Sabtu, 8 Agustus 1997

Jangan Lukis Tarianku dengan Hatimu

Kau tahu? Kau pasti tidak tahu. Perasaan yang kupendam ini tak mungkin kau tahu. Setiap detik di dekatmu adalah detik paling indah dalam hidupku. Setiap kata yang kau ucapkan untukku begitu memikat hatiku. Semua perjumpaan kita semakin membuatku suka padamu. Ya, itu kamu. Kamu yang hatinya sudah menjadi milik orang lain.

Namaku Farah, aku adalah siswi kelas 1 SMP Negeri 1 Medan. Di sekolah ini terdapat banyak aktivitas siswa-siswi sepulang sekolah. Salah satunya adalah sanggar tari tradisional yang aku ikuti. Awalnya aku tidak begitu berminat pada tari tradisional. Bahkan aku tidak pernah menari sebelumnya.

�Selamat pagi, Rima,� sapaku.

Namanya Rima, dialah yang telah membuatku bergabung dalam sanggar tari. Aku tidak tahu kenapa, temanku sejak SD ini tiba-tiba saja memaksaku ikut menari. Selagi aku juga tidak memiliki aktivitas sepulang sekolah, dia begitu pandai menghasutku. Meskipun begitu, dia tipikal orang yang pendiam namun begitu hangat.

�Ah, pagi, Farah,� jawabnya yang terkejut melihat kehadiranku. Ia memang suka melamun. Aku tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya. Saat aku memintanya bercerita dia hanya menggelengkan kepalanya.

Bel sekolah berbunyi. Aku duduk di samping Rima. Di SMP ini kami sudah duduk sebangku lebih dari sepuluh bulan. Bahkan sewaktu SD kami juga teman sebangku untuk beberapa tahun. Karena saking merasa dekatnya seperti saudara inilah kami bahkan membeli tas yang sama untuk merayakan diterimanya kami di SMP yang sama.

Selama pelajaran berlangsung, aku tidak sabar menanti pulang sekolah hari ini. Karena hari ini adalah hari Kamis dan itu artinya kami akan latihan menari.

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Aku dan Rima pun berangkat menuju sanggar. Tidak banyak yang berminat mengikuti kegiatan tari tradisional ini. Kami saja hanya berjumlah enam orang. Empat orang siswi kelas 2 dan dua orang siswi kelas 1. Ya, hanya aku dan Rima.

�Hari ini tetap bersemangat seperti biasanya ya, Farah, Rima,� celetuk Kak Hana. Kak Hana adalah senior kami di sanggar tari ini. Dia cantik dan begitu terlihat dewasa. Dia juga sudah memiliki pacar, tidak seperti aku dan Rima. Di sekolah ini, kami harus memanggil kakak untuk seluruh senior kami, baik siswa maupun siswi.

Kami pun mengganti seragam kami dengan pakaian olah raga, pakaian yang selalu kami gunakan ketika latihan menari. Biasanya di saat acara-acara besar maupun ketika sekolah kami didatangi tamu-tamu penting, kami menyambut mereka dengan tarian tradisional. Rasanya membanggakan sekali bisa melakukan hal yang menyenangkan dan berguna bagi orang lain.

Kami latihan menari di lobi sekolah. Sanggar tari kami sebenarnya hanya istilah klub untuk menyebut lobi. Tidak ada tempat yang diizinkan kepada kami untuk menari selain di lobby. Kami tidak mau latihan menari di lapangan karena panas, terik, dan bisa juga hujan. Aula sekolah membutuhkan izin yang rumit untuk terus digunakan. Untunglah kami masih diberi ruangan kecil yang sudah cukup untuk kami mengganti baju dan meletakkan barang-barang kami.

Di saat kami mulai menari, di saat itulah dia pun datang. Namanya Robi, dia seorang siswa kelas 2. Meskipun dia adalah seniorku, aku tidak sudi memanggil dia dengan sebutan kakak. Dia terlalu sering menjahiliku dan itu membuatku kesal. Meskipun dibalik kekesalan itu tersimpan rasa untuknya. Meskipun rasa itu hanya dapat kusimpan dalam hatiku karena dia adalah pacarnya Kak Hana.

Seperti biasanya dia berdiri di sana, mengahadap kami. Membentangkan kanvasnya di atas easel, mengoleskan kuas penuh cat. Kanvas yang putih dipenuhi warna sepanjang kami latihan menari. Ia tak berkata sedikit pun pada saat itu. Begitu serius, begitu penuh konsentrasi, begitu mengesankan. Tatapan matanya yang tajam tertuju pada kami pun sejenak membuatku seakan ditarik untuk masuk ke dalam konsentrasinya.

Setelah satu jam, begitu kami selesai latihan menari. Kak Hana, aku, dan Rima bergegas menghampiri Robi. Tak mampu lagi kami menahan rasa penasaran untuk melihat lukisannya. Kali ini dia melukis pose tarian kami dengan gaya lukisan yang berbeda.

�Jelek, ini lukisan apa sih?� tanyaku.

�Kamu tidak pernah mendengar istilah lukisan abstrak?� Robi yang menyebalkan itu balik bertanya, �Ini sudah jelas lukisan orang yang sedang menari."

�Menari? Menari dari Hong Kong!� celetukku.

�Kalau kamu mau saya lukis bilang saja, gak usah nyindir-nyindir segala.�

Aku terdiam sejenak. Diriku langsung membayangkan kalau aku hanya berdua dengannya. Hanya ada aku yang berpose dan dia yang melukisku. Tanpa kusadari wajahku memerah sendirinya. Sadar Farah, sadar! Dia itu pacarnya Kak Hana! �Ih, siapa juga yang mau dilukis sama kamu? Hmph!� Tanganku langsung meraih tangan Rima lalu lanjut berkata seraya beranjak pergi, �Ayo, Rima, kita ganti baju.�

Rima berjalan tergopoh-gopoh dibelakangku. Ia sebelumnya hanya diam melamun memandang lukisan itu.

�Huh, gambar apa itu? Tidak jelas sekali. Abstrak katanya? Mukanya kali yang abstak,� aku menggerutu dalam ruang ganti baju kami.

�Tapi Farah, menurutku gambarnya bagus kok.�

�Ha? Kamu terlalu banyak melamun Rima.�

�Tidak ah, menurutku memang bag�.�

Belum sempat Rima menyelesaikan kata-katanya, Kak Hana membuka pintu sanggar dengan cepat kemudian menutupnya lagi. �Kalian boleh pulang duluan,� katanya tanpa melihat wajah kami. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padanya tapi dia terlihat begitu sedih.

Aku ingin sekali bertanya pada Kak Hana apa yang telah terjadi tapi Rima langsung menarik tanganku. Kami pun pergi meningalkannya sedirian dalam ruangan itu. Tak ada yang bisa kutanyakan pada Rima yang juga terus diam hingga kami pun berpisah di perjalanan pulang.

Hari-hari setelah itu pun berlalu seperti biasanya. Kami sama sekali tidak membahas apa yang telah terjadi pada Kak Hana. Tidak ada hal yang berbeda terkecuali Rima yang semakin sering melamun. Hingga akhirnya hari itu pun tiba. Hari di mana kami semestinya berjumpa dengan Kak Hana.

Dia berdiri di sana, di hadapan kami, namun aku merasa kalau itu bukanlah dirinya. Tubuhnya Kak Hana, namun jiwanya bukan. Dia tidak memiliki semangat untuk menyemangati kami latihan. Seluruh aura yang dipancarkannya pun membuat kata-kataku tertahan. Kami tak menyapa, tak menegur, hanya latihan menari seperti robot yang diprogram untuk menari.

Janggal, sungguh janggal sekali hari ini. Tak seperti hari di mana kami latihan penuh ceria dan semangat. Ditambah lagi sang pelukis itu tidak datang. Hambar, sungguh hambah hari ini. Apalagi ketika Kak Hana pulang lebih dulu begitu latihan usai.

�Kak Hana pulang duluan ya, padahal aku masih ingin bertanya kenapa kali ini latihan kita tidak dilukis,� pikiranku tanpa sadar terlontar begitu saja dari mulutku.

�Kamu tidak tahu?� ujar seorang senior yang masih terlihat kelelahan sehabis latihan, �Mereka sudah putus.�

�Putus�?�

�Ya, putus. Sulit dipercaya �kan? Padahal mereka baik-baik saja sampai minggu lalu,� tambah temannya.

Berarti itu yang membuatnya sampai seperti ini? Aku sendiri masih belum bisa mempercayai apa yang telah kudengar. Tapi, bukankah ini artinya kesempatanku? Bukankah ini artinya si Robi yang lukisannya jelek itu sedang tidak punya pacar? Apakah ini kesempatanku untuk bersama si brengsek yang selalu berbalas sindiran denganku? Bagaimana dengan si Robi itu sendiri? Apakah dia yang akan benar-benar melukisku? Apakah dia tertarik padaku? Aku bahkan sama sekali tidak tahu alasan mereka putus. Tapi bagaimana dengan Kak Hana? Apakah Kak Hana masih ada rasa untuknya?

�Aku tidak mengerti pada perasaanku sendiri Rima,� ucapku sambil berjalan pulang dengan Rima setelah menuangkan seluruh ganjalan dalam hati dan pikiranku menjadi kata-kata yang didengarnya.

Rima hanya diam.

�Ayolah Rima, jangan melamun.�

�Aku� juga tidak tahu,� akhirnya Rima pun berbicara padaku. Namun, hanya itulah yang dapat dia katakan padaku karena jalan pulang yang berbeda sudah harus memisahkan kami.

Sesampai di rumah, barulah kusadari betapa hebatnya kegalauan dan kegundahan yang kurasakan. Aku meletakkan tasku di atas meja belajarku di kamar. Dan saat itu aku merasakan sebuah kejanggalan baru. Tasku terlihat sedikit berbeda.

Kubuka tas itu untuk memastikan. Ternyata memang benar aku salah menyandang tas. Tas aku dan Rima memang sama, bahkan kami membelinya bersama-sama sewaktu masuk di SMP yang sama. Tapi baru kali ini tas kami tertukar seperti ini. Bodoh sekali rasanya.

Selembar kertas berlipat terjatuh dari dalam isi tas itu. Saat kuambil, sedikit terbacaku beberapa kata yang menarik rasa penasaranku. Aku pun membuka lipatan kertas itu dan membacanya.

Rima, telah kulakukan semuanya agar kamu percaya bahwa hanya dirimulah yang benar-benar berada di dalam hatiku. Sekarang aku menanti jawabanmu, akan kuhargai apapun keputusanmu.

Robi

Rima adalah pacar baru Robi. Dialah yang menjadi penyebab  mereka putus. Lalu untuk apa perasaanku ini kuceritakan padanya? Kakiku tak kuat menahan tubuhku secara seimbang. Aku pun terjatuh, tak kuat diri menerima kenyataan ini.


download
alternative link download