Aku Rifatila dan Void Project
Udah 2015 aja ya, gak terasa. Waktu itu masih 2010, sekitar bulan desember, tercetus ide untuk membuat Visual Novel (VN). Masih dengan polos-polosnya aku ngajak Adlin yang sudah lama berkecimpung di dunia VN dan Wawan yang gambarnya jauh lebih bagus dari aku. Betiga kami membuat sebuah projek pertama bernama VOID. VOID itu sendiri kepanjangannya Virtual Organic Integrated Data, yang kalo dipikir-pikir sekarang gak nyambung kali.
Kenapa aku nulis kisah memalukan ini? Oh well, jadi kemaren gini ceritanya.
| Jadi, begitulah, haha. |
Ntah kapan VOID Project ini pertama kali dibentuk tapi kalau grup facebooknya hari ini. Iya, hari ini 5 Januari 2011, empat tahun yang lalu. Aku sendiri baru aja tau. Kebetulan kah? Hahaha.
| Shouldnt we said Happy 4th Anniversary? |
Jadi ya begitulah, seperti biasanya kalau dalam proyek-proyek randoman aku. Aku pun ngerekrut orang-orang random. Selain Adlin dan Wawan, juga ada Fuad Albar, kawan kampus kami yang jago ngebeatbox, sebagai Music Composer, Rizky Annisa, kawan sekelas aku waktu SMA yang pernah nulis novel, sebagai Story Writer, dan Ghassani, junior aku di SMA yang jago pake photoshop, sebagai Background Designer. Dengan mimpi-mimpi, "Untuk apa kita jadi sarjana, kalau kita tidak punya karya sewaktu jadi mahasiswa." Kami berenamlah anggota pertama proyek abal-abal ini.
Tutturu~





Everything was fun at the beginning, until it turns out to be like this.
VOID Project sendiri pernah vakum total, bahkan tabu untuk dibicarakan mulai pertengahan 2012 hingga akhir 2013. Bagaimana tidak, kami harus mengerahkan seluruh pikiran kami untuk organisasi kampus. Bukan berlebihan sih, hanya bentuk kesadaran aja. Walaupun terkadang sempat berpikir untuk merekrut anggota-anggota baru.
Meskipun begitu, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan sewaktu kelas multimedia. Kami memilih jalur sendiri, walaupun awalnya sulit untuk menjelaskan apa itu VN kepada dosen yang kini telah menjadi kepala jurusan. Tapi beliau akhirnya mengizinkan kami setelah melihat betapa mantapnya gambar si Wawan. Hahaha.
Kalau bisa diberi nomor urut, Final Decision adalah proyek kedua dari VOID Project dan menjadi proyek pertama yang berhasil kami selesaikan. Dengan tambahan beberapa orang yang akhirnya join ke VOID Project, baik sementara maupun permanen. Seperti Cethi misalnya, dia pun berminat menjadi fotografer di proyek ini. Lalu menjelang berakhirnya masa kepengurusan, Andreas, sekretaris aku di organisasi pun ikut bergabung. Rencanya malah semua bocah-bocah cekarlet bakal join ke sini. Tapi bukan berarti hanya sebatas di situ saja, kami pun sangat senang jika ada yang berminat bergabung ke proyek abal-abal ini, gak harus punya kemampuan, yang penting punya kemauan.
Sebenarnya memang sedih sekali jika semua mimpi ini hanya berakhir seperti ini. Jika masih ada harapan, segala upaya layaknya dikerahkan. Tapi, masalah terbesarnya kami saja masih menyandang status mahasiswa. Andaikan sudah lulus, semoga Void Project dapat dilanjut dan disukseskan.
Akhir kata, aku ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, baik memberi semangat, doa, serta saran, Membaca postingan dengan label Void Project saja sudah sangat membantu, terima kasih. :)
Sampai jumpa di karya-karya VOID Project selanjutnya.
Tutturu~

alternative link download