Tak pernah, sejak bertemu dengan Riemu, tak pernah terpikir olehku perpisahan kami harus seperti ini. Kenapa? Aku bahkan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Aku sendiri di tengah hutan ini. Keindahan danau yang kupandang kini tak seindah kemarin. Kenapa aku merasa kehilangan? Bukankah dari awal aku sebenarnya tidak ingin ia ikut dalam perjalananku?
Ya, dia sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Untuk apa aku memikirkannya? Aku bahkan tidak mengenalnya. Dia bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Tapi kenapa aku merasa kehilangan? Ah sudahlah, ini bukan saatnya untuk itu. Lihat sisi baiknya, beban perjalananku berkurang. Meskipun sejujurnya, aku tidak merasa ia adalah beban perjalananku.
�Ah, sudahlah, lebih baik aku melanjutkan perjalanan ini saja,� ucapku pada diriku sendiri. Aku pun berdiri dan beranjak menuju tenda. Aku pun berkemas. Terlihat olehku sebuah tas ransel besar di dalam tenda itu. Riemu bahkan pergi meninggalkanku tanpa membawa barang-barangnya. Aku mengeluarkan ransel berwarna merah muda itu dari dalam tenda agar dapat membongkar tendaku.
Saat itulah secarik kertas terjatuh. Aku memungut kertas itu dan tersentak ketika membaca tulisan yang tertoreh di sana. Halati Street 1 - Koper, Slovenia. Jalan Halati? Halati? Emuria Halati? Dari mana ini semua berasal? Ini bukan tulisanku, apa ini tulisan Riemu? Lalu ini alamat milik siapa? Dan kenapa Slovenia? Kepalaku hampir pecah akibat saking kerasnya memikirkan sebuah alamat dari secarik kertas.
Aku meremas kertas mungil itu lalu melemparkannya ke danau. Tapi kertas itu tak terlepas dari genggaman tanganku. Aku menahannya. Mungkin lebih baik kertas ini kusimpan aja, pikirku sambil menyimpannya ke dalam saku celanaku. Aku pun menyandang ransel biru gelapku dan meninggalkan ransel merah muda milik Riemu.
Aku berhasil tiba di jalan raya, namun pikiranku tak pernah lepas dari nama jalan itu. Halati? Kenapa nama jalannya seperti itu? Perasaan tak tenang ini membuatku merasa harus segera pergi ke sana. Aku tidak tahu apa yang akan kutemukan di sana. Tapi apapun itu, dia telah berhasil membuatku melanggar keputusanku sendiri. Aku tak lagi berjalan kaki menuju kota selanjutnya. Aku menumpang kepada salah satu truk yang lewat. Untung saja pasporku masih tersimpan rapi, sehingga aku bisa melewati perbatasan tanpa masalah.
Setiba di Polandia, aku terus menunggu kendaraan umum yang ada dan bergegas ke bandara. Tak lupa aku pun berterima kasih kepada supir truk yang telah bersedia memberiku tumpangan. Aku tidak tahu apa yang kukejar. Aku tidak tahu mengapa aku merasa terburu-buru. Tapi saat aku tiba di bandara internasional Polandia dengan napas terengah-engah, aku berhenti sejenak.
Aku malah mencari penerbangan ke Inggris, bukan Slovenia. Aku tidak mengerti apa yang kulakukan. Namun, kini aku berada di Inggris. Menyewa sebuah hotel dan bermalam di sana. Sudah lama aku ingin sekali kemari. Tapi aku pernah sampai hingga saat ini. Tapi tetap saja bukan ini yang aku cari. Aku kabur. Aku kabur dari rasa penasaranku yang kini menjadi rasa takut. Aku takut untuk menerima kebenaran yang akan aku dapat di Slovenia, meskipun aku belum tahu, kebenaran apa yang akan aku terima.
Tidak tenang dengan bangun pagiku, aku pun membeli tiket lagi ke Perancis. Setelah dari Perancis aku juga terbang ke Ukraina yang tidak sempat kukunjungi sebelumnya. Aku terus menghamburkan uangku hingga satu minggu mengunjungi beberapa negara Eropa hingga akhirnya aku tiba di salah satu pasar tradisional di Barcelona, Spanyol.
Saat itu aku melihat kerumunan orang-orang. Karena penasaran, aku pun menghampiri dan menyisip ke tengah kerumunan itu. Dua orang berseragam tentara seperti yang aku jumpai sebelumnya di suatu danau dalam perjalanan dari Rusia ke Polandia sedang menodong pistol mereka ke seorang perempuan yang sedang berlutut menghadap kerumunan masyarakat. Perempuan itu mengangkat wajahnya, ia melihat wajahku, mata kami pun bertemu. "Riemu?" tanyaku terkejut.
"Daniel, tolong aku...," lirihnya dengan tetesan air mata.
Tak sempat berbuat apa-apa, pelatuk sudah ditarik. Peluru meluncur dan menembur kepala gadis yang selama ini menemani perjalananku. Tak ada yang dapat kuperbuat. Aku bahkan tak bisa mengualarkan suara dari mulutku. Orang-orang di sekitarku sama sekali tidak terlihat sedih, mereka malah bersorak sorai menyaksikan pembunuhan ini. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku hanya bisa terjatuh dan bertekuk lutut menyaksikannya.
Aku pun terbangun. Ternyata hanya sebuah mimpi. Aku meraih sebuah jam yang terletak di atas meja di samping tempat tidur di dalam kamar hotelku. Sudah jam 10 pagi. Aku bangun terlambat. Gemetar, tanganku gemetar hebat saat menggenggam jam meja itu. Tidak hanya melihat tanganku yang gemetar, aku benar-benar merasakan tanganku gemetar bahkan bercucuran keringat. Aku mengembalikan jam itu ke atas meja. Aku menarik badanku dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Mungkin sudah saatnya aku pergi ke sana.
Sebuah kota bernama Koper di Slovenia. Di sini lah aku sekarang. Bertanya dengan beberapa orang di mana Jalan Halati 1. Ternyata mereka tidak menyebut istilah jalan di sini dengan Street. Tapi mengapa Riemu menuliskan kata itu? Apa untuk mempermudah mengerti kalau dia meninggalkan sebuah alamat kepadaku? Tapi, bukankah dia sudah bertemu dengan orang tuanya? Tapi, bagaimana jika mereka bukanlah orang tuanya yang sebenarnya? Kalau begitu, mengapa ia mau-mau saja pergi dengan mereka?
Seluruh kebingunganku terhenti ketika taksi yang kutumpangi pun berhenti. Aku sudah tiba di hadapan sebuah rumah yang sangat besar. Aku turun dari taksi. Rumah itu terlihat tua dan sepertinya tidak pernah dirawat. Pagarnya berlilit tanaman menjalar. Dindingnya penuh lumut. Aku masuk ke dalam pekarangan rumah itu begitu saja karena pagarnya juga sudah terbuka. Terlihat di depan pintu seorang kakek berambut putih mengenakan jas yang rapi, sedang mengusap-usap pintu depan rumah itu dengan kemoceng.
Aku menghampirinya dan hendak menyapa. Tapi kakek itu tersenyum lebih dulu dan berjalan menghampiriku. Ia memberikanku sebuah kumpulan kunci dan berkata, "Tugas saya berakhir di sini." Aku menoleh dan mencoba memanggil kakek itu. Tapi ia terus berjalan keluar dari pagar. Aku menatap kebingungan dengan kumpulan kunci di tanganku.
Sudah terlalu banyak hal aneh sejak aku bertemu dengan Riemu. Perginya seorang kakek yang hanya menitipkan sekumpulan kunci kepadaku, sudah termasuk dalam bagian ekspektasiku. Dengan perasaan mungkin inilah jawaban dari semua kebingunganku, aku pun menghampiri pintu depan rumah itu. Untung saja di setiap kunci di kumpulan kunci itu, terdapat keterangan kunci tersebut digunakan membuka pintu yang mana. Seperti yang sedang kuganakan pertama kali adalah kunci Main Door.
Begitu masuk ke dalam, aku langsung terbatuk-batuk. Debunya begitu banyak. Sepertinya baru pertama kalinya pintu rumah ini dibuka setelah sekian lama. Aku menemukan tombol lampu dan langsung menekannya. Seketika terlihat rumah itu masih dalam keadaan rapi namun jelas tak berpenghuni, berdebu, bahkan bersarang laba-laba di beberapa tempat.
Aku menyisihkan kunci-kunci itu. Bertanya-tanya pintu mana yang akan aku buka selanjutnya. Tiba-tiba terlihat olehku sebuah kunci yang diukir dengan sebuah kata yang tidak tidak membuatku tidak penasaran. Daniel. Itulah kata yang terukir pada kunci itu. Langsung saja aku berkeliling mencari pintu yang juga diukir dengan namaku itu. Hampir semua pintu, terkecuali pintu depan, memiliki ukiran yang menamai kamar yang ditutupnya. Seperti bedroom, kitchen, dan sebagainya, semuanya ditulis dengan bahasa Inggris.
Tak dapat menemukan kamar yang diharapkan di lantai satu, Aku pun naik ke lantai dua. Debu yang sangat tebal menempel di tanganku saat aku mencoba untuk memegang pegangan tangga. Aku menepuk-nepuk kedua tanganku untuk menghilangkan debu itu. Lalu berjalan ke atas tanpa berpegangan. Di lantai dua, aku berhasil menemukan sebuah kamar yang tak dapat kupercaya dengan tulisan yang terukir di pintunya. Emuria.
Setelah namaku, kini namanya. Emuria. Emuria di rumah Halati. Apakah ini arti dari mimpi yang membuat perjalananku? Apakah ini jawaban dari segala pertanyaanku? Aku mencari-cari kunci dengan ukiran bertuliskan Emuria di kumpulan kunci-kunci dalam genggamanku. Namun, tidak dapat kutemukan. Aneh sekali. Aku tidak dapat menemukan pintu bertuliskan Daniel dan aku juga tidak dapat menemukan kunci bertuliskan Emuria. Mungkinkah?
Kunci berhasil masuk dan kuputar. Pintu pun terbuka, sebuah kamar yang rapi pun terlihat. Tidak seperti ruangan lainnya, kamar ini memiliki jendela yang terbuka. Seberkas sinar matahari pun masuk ke dalam dan menerangi tepat ke sebuah laci meja. Sebuah buku berwarna putih di atas taplak meja berwarna bitu itu memantulkan cahaya yang menarik perhatianku. Tidak ada tulisan apapun di sampul buku itu. Aku buka lembaran pertama, Tertulis, "Diary of Emuria." Buku harian Emuria. Aku buka lagi lembaran selanjutnya. Tertulis, "For Daniel." Untukku? Benarkah aku Daniel yang dimaksud dalam buku harian ini? Akankah seluruh pertanyaanku terjawab oleh buku harian ini?
"Daniel, tolong aku...," lirihnya dengan tetesan air mata.
Tak sempat berbuat apa-apa, pelatuk sudah ditarik. Peluru meluncur dan menembur kepala gadis yang selama ini menemani perjalananku. Tak ada yang dapat kuperbuat. Aku bahkan tak bisa mengualarkan suara dari mulutku. Orang-orang di sekitarku sama sekali tidak terlihat sedih, mereka malah bersorak sorai menyaksikan pembunuhan ini. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku hanya bisa terjatuh dan bertekuk lutut menyaksikannya.
Aku pun terbangun. Ternyata hanya sebuah mimpi. Aku meraih sebuah jam yang terletak di atas meja di samping tempat tidur di dalam kamar hotelku. Sudah jam 10 pagi. Aku bangun terlambat. Gemetar, tanganku gemetar hebat saat menggenggam jam meja itu. Tidak hanya melihat tanganku yang gemetar, aku benar-benar merasakan tanganku gemetar bahkan bercucuran keringat. Aku mengembalikan jam itu ke atas meja. Aku menarik badanku dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Mungkin sudah saatnya aku pergi ke sana.
Sebuah kota bernama Koper di Slovenia. Di sini lah aku sekarang. Bertanya dengan beberapa orang di mana Jalan Halati 1. Ternyata mereka tidak menyebut istilah jalan di sini dengan Street. Tapi mengapa Riemu menuliskan kata itu? Apa untuk mempermudah mengerti kalau dia meninggalkan sebuah alamat kepadaku? Tapi, bukankah dia sudah bertemu dengan orang tuanya? Tapi, bagaimana jika mereka bukanlah orang tuanya yang sebenarnya? Kalau begitu, mengapa ia mau-mau saja pergi dengan mereka?
Seluruh kebingunganku terhenti ketika taksi yang kutumpangi pun berhenti. Aku sudah tiba di hadapan sebuah rumah yang sangat besar. Aku turun dari taksi. Rumah itu terlihat tua dan sepertinya tidak pernah dirawat. Pagarnya berlilit tanaman menjalar. Dindingnya penuh lumut. Aku masuk ke dalam pekarangan rumah itu begitu saja karena pagarnya juga sudah terbuka. Terlihat di depan pintu seorang kakek berambut putih mengenakan jas yang rapi, sedang mengusap-usap pintu depan rumah itu dengan kemoceng.
Aku menghampirinya dan hendak menyapa. Tapi kakek itu tersenyum lebih dulu dan berjalan menghampiriku. Ia memberikanku sebuah kumpulan kunci dan berkata, "Tugas saya berakhir di sini." Aku menoleh dan mencoba memanggil kakek itu. Tapi ia terus berjalan keluar dari pagar. Aku menatap kebingungan dengan kumpulan kunci di tanganku.
Sudah terlalu banyak hal aneh sejak aku bertemu dengan Riemu. Perginya seorang kakek yang hanya menitipkan sekumpulan kunci kepadaku, sudah termasuk dalam bagian ekspektasiku. Dengan perasaan mungkin inilah jawaban dari semua kebingunganku, aku pun menghampiri pintu depan rumah itu. Untung saja di setiap kunci di kumpulan kunci itu, terdapat keterangan kunci tersebut digunakan membuka pintu yang mana. Seperti yang sedang kuganakan pertama kali adalah kunci Main Door.
Begitu masuk ke dalam, aku langsung terbatuk-batuk. Debunya begitu banyak. Sepertinya baru pertama kalinya pintu rumah ini dibuka setelah sekian lama. Aku menemukan tombol lampu dan langsung menekannya. Seketika terlihat rumah itu masih dalam keadaan rapi namun jelas tak berpenghuni, berdebu, bahkan bersarang laba-laba di beberapa tempat.
Aku menyisihkan kunci-kunci itu. Bertanya-tanya pintu mana yang akan aku buka selanjutnya. Tiba-tiba terlihat olehku sebuah kunci yang diukir dengan sebuah kata yang tidak tidak membuatku tidak penasaran. Daniel. Itulah kata yang terukir pada kunci itu. Langsung saja aku berkeliling mencari pintu yang juga diukir dengan namaku itu. Hampir semua pintu, terkecuali pintu depan, memiliki ukiran yang menamai kamar yang ditutupnya. Seperti bedroom, kitchen, dan sebagainya, semuanya ditulis dengan bahasa Inggris.
Tak dapat menemukan kamar yang diharapkan di lantai satu, Aku pun naik ke lantai dua. Debu yang sangat tebal menempel di tanganku saat aku mencoba untuk memegang pegangan tangga. Aku menepuk-nepuk kedua tanganku untuk menghilangkan debu itu. Lalu berjalan ke atas tanpa berpegangan. Di lantai dua, aku berhasil menemukan sebuah kamar yang tak dapat kupercaya dengan tulisan yang terukir di pintunya. Emuria.
Setelah namaku, kini namanya. Emuria. Emuria di rumah Halati. Apakah ini arti dari mimpi yang membuat perjalananku? Apakah ini jawaban dari segala pertanyaanku? Aku mencari-cari kunci dengan ukiran bertuliskan Emuria di kumpulan kunci-kunci dalam genggamanku. Namun, tidak dapat kutemukan. Aneh sekali. Aku tidak dapat menemukan pintu bertuliskan Daniel dan aku juga tidak dapat menemukan kunci bertuliskan Emuria. Mungkinkah?
Kunci berhasil masuk dan kuputar. Pintu pun terbuka, sebuah kamar yang rapi pun terlihat. Tidak seperti ruangan lainnya, kamar ini memiliki jendela yang terbuka. Seberkas sinar matahari pun masuk ke dalam dan menerangi tepat ke sebuah laci meja. Sebuah buku berwarna putih di atas taplak meja berwarna bitu itu memantulkan cahaya yang menarik perhatianku. Tidak ada tulisan apapun di sampul buku itu. Aku buka lembaran pertama, Tertulis, "Diary of Emuria." Buku harian Emuria. Aku buka lagi lembaran selanjutnya. Tertulis, "For Daniel." Untukku? Benarkah aku Daniel yang dimaksud dalam buku harian ini? Akankah seluruh pertanyaanku terjawab oleh buku harian ini?
alternative link download