Against the World Series Part 6 Daniella


Yola, seorang temanku dari satu klub yang sama sewaktu SMA, pernah berkata mungkin aku bukanlah pacar yang baik, melainkan calon ayah yang baik. Itu adalah kalimat yang digunakannya untuk menghiburku di saat kisah cintaku berakhir dengan Daniella. Sebelum aku bercerita tentang bagaimana kisah kami berakhir, mungkin lebih baik lagi jika aku bercerita tentang bagaimana permulaannya.

Sebenarnya mengenang ini semua membuat hatiku gundah dan kacau. Namun kehadirannya di hadapanku tak mampu menahanku untuk melupakan setiap detik-detik itu. Detik-detik di saat kebahagiaan mengalir dalam denyut nadiku. Detik-detik di saat aku masih berkelana dalam kegilaan masa mudaku. Detik-detik di mana semuanya masih terasa begitu istimewa.

Aku menyukai hal-hal yang istimewa. Bagiku istimewa atau spesial itu adalah sesuatu yang tak pernah sama. Meski aku tahu tak ada yang sama, tak pernah satu pun ada hal sama. Meskipun suatu detik terulang, pasti menitnya berbeda. Meskipun menitnya sama, pasti jamnya berbeda. Meskipun jamnya sama, pasti harinya berbeda, bulannya berbeda, bahkan tahunnya berbeda. Bahkan sebuah teori mengatakan revolusi bumi mengintari matahari pun tak pernah sama, pasti ada pergeseran meski sekecil apapun itu. Sungguh spesial alam ini diciptakan.

Begitu jugalah keinginanku di masa depan. Menghabiskan sisa hidupku yang spesial ini bersama orang yang paling spesial. Dan untuk membuatnya merasa spesial juga, aku menjaga diriku dari tingkah laku layaknya suami istri saat aku masih mengenakan seragam putih abu-abu itu. Betapa beruntungnya aku ketika komite kedisplinan sekolah kami berupaya untuk memberantas kegiatan pacaran di sekolah kami.

Namun pemikiran itu tidak mampu kupertahankan selamanya. Seiring bertambahnya usiaku, kata istimewa itu sendiri semakin tidak istimewa. Bahkan saat masa-masa sekolah berseragamku berakhir, aku mencapai titik di mana aku menganggap tidak ada lagi yang istimewa di dunia ini. Khususnya dalam menyangkut urusan hatiku.

Waktu itu aku masih menjadi siswa kelas 3 SMA. Aku punya seorang teman sekelas yang pernah menolakku sewaktu aku menyatakan perasaan padanya. Awalnya sih aku hanya menyatakan karena ditantang temanku dari kelas yang berbeda. Namun, semenjak kejadian itu terjadi, perasaan yang sesungguhnya mulai timbul. Aku tidak tahu apakah ini yang mereka sebut sebagai karma atau bukan.

Pernah suatu ketika teman sekelas yang menolakku itu sakit dan dibawa ke UKS. Saat itu masih jam pelajaran, aku tak bisa menghilangkan kekhawatiranku begitu saja. Begitu bel istirahat makan siang berbunyi, aku pun bergegas menuju UKS dan menanyakan keadaannya. Dia mengatakan kalau keadaannya sudah mulai lebih baik. Saat kutanya apakah dia mau kubelikan makanan, dia pun mengangguk. Aku membeli sebuah nasi kotak dari kantin yang biasanya kami makan bersama teman sekelas lainnya. Setiba kembali ke UKS aku mendapati dirinya sedang tertidur pulas.

"Tinggalkan saja dulu di situ," ucap ibu perawat di UKS kepadaku sambil menunjuk sebuah meja di samping temanku yang berbaring itu, "kamu makan saja dulu. Kamu belum makan siang kan?"

Tidak salah yang dikatakan ibu itu, pikirku. Aku termasuk tipe orang yang cepat terkena penyakit mag jika terlambat makan. Mungkin setelah makan dia juga akan terbangun. Aku pun berangkat menuju kantin yang tidak jauh dari UKS, makan dengan cepat, kemudian bergegas kembali ke UKS. Namun pada saat aku melihat dari kejauhan di luar pintu, sebuah peristiwa menyesakkan dada terlihat olehku. Dia telah terbangun dan sedang makan, tapi tidak sendirian, melainkan dengan teman sekelas kami, seorang laki-laki. Ia disuapi olehnya.

Menangis itu tidak biasa dilakukan oleh laki-laki karena nanti bisa dianggap cengeng. Laki-laki yang cengeng itu lemah. Laki-laki tidak boleh lemah. Itulah yang diajarkan padaku sejak aku kecil. Tapi kali ini, tak dapat kutahan air mataku mengalir bahkan hingga membasahi pipiku. Pada detik itu juga, aku yang hanya bisa memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan kebahagiaan.

Setelah kejadian mengenaskan hati itu berakhir, perasaanku pada teman sekelasku itu pun hilang. Benar-benar hilang dan aku pun tidak berani lagi melakukan hal-hal seperti mencari pacar dari tantangan seperti itu lagi. Hingga pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengan seorang gadis, matanya kecil, rambutnya seleher. Kami menaiki tangga yang kami sebut kebahagiaan. Saat aku terlalu sibuk bersenang menaiki tangga itu, tanpa sadar aku tergelincir dan terjatuh. Belum sempat aku bertanya siapa namanya dalam mimpiku, aku sudah lebih dulu terbangun.

Pagi hari itu aku sama sekali tidak memikirkan mimpi itu, aku berangkat menuju sekolah seperti biasanya. Pikiranku hanya dipenuhi oleh belajar, belajar, dan belajar. Sebagai siswa kelas 3 SMA, aku sangat ingin lulus di salah satu universitas populer.

"Woi, Daniel," sapa Lukman sambil menepuk pundakku, "jangan lupa ya, nanti pulang sekolah."

"Ada apa?"

"Masa lupa, hari ini kita wawancara anak baru klub penulis."

Ah, iya, aku adalah anggota bagian penulis cerpen di klub penulis di sekolahku. Sekolah kami ini memang populer dengan klubnya. Klub inilah yang memotivasi dan membantu kami mewujudkan cita-cita serta mengembangkan bakat dan minat terhadap hobi kami. Temanku yang bernama Lukman itu sendiri adalah ketua umum di klub penulis. Untuk menjadi anggota klub bukanlah hal mudah, hanya siswa kelas 1 yang lulus seleksi klub yang bisa menjadi anggota klub. Aku sendiri hanya memiliki dua hobi. Menulis dan menggambar. Untungnya aku lulus di kedua klub yang berbeda tersebut.

Bel pulang sekolah berbunyi. Lukman mengajakku untuk ngobrol terlebih dahulu.

"Kita santai saja, itu urusan anak kelas 2. Begitu bagian wawancara barulah kita beraksi," kata Lukman.

"Tenang saja, aku masih ingat kok pertanyaan kakak kelas kita dulu sewaktu mewawancarai aku. Mungkin beberapa bisa kugunakan."

Tak lama, kami pun dipanggil junior kami yang baru duduk di kelas 2. Mereka terlihat begitu antusias untuk pertama kalinya menjadi senior di klub. Tidak banyak yang terlihat berpotensi dan berminat di cerpen. Kebanyakan mereka lebih berminat bergabung dengan bagian novel, puisi, dan yang lainnya. Membosankan sekali pikirku.

Kebosananku berakhir saat gadis itu muncul bergitu saja. Gadis yang rambutnya di kepang dua sesuai dengan syarat peserta seleksi. Gadis yang menyerahkan formulirnya kepadaku untuk kuwawancara. "Akhirnya ada juga yang berminat di bagian cerpen," adalah kalimat pertama yang kuucapkan pada gadis yang tidak kusangka nantinya akan mengubah pandangan hidupku.

Kulirik kertas formulirnya, ternyata nama kami berawalan hampir serupa. "Daniella," ucapku.

"Iya, Kak?" responnya.

Untuk sesaat rasanya jantungku seperti berhenti berdetak. Aku tidak tahu kenapa. "Ah, tidak apa-apa," jawabku. "Kamu mau gabung ke bagian cerpen kan? Coba tunjukkan dulu salah satu cerpen yang pernah kamu buat."

"Itu Kak, di balik formulirnya."

Aku mengangkat lembaran formulir itu. Terlihat sebuah lembaran buku kertas binder penuh tulisan. Di bagian sudut kiri atasnya terdapat namanya dan kelasnya. Sementara di bagian kanan atasnya tertulis hari dan tanggal 8 Agustus. Dia pikir ini tugas sekolah? Tanyaku dalam hati sambil sedikit tertawa.

Kulihat judulnya dan kutanya padanya tentang isi tulisannya. Aku tidak memiliki banyak waktu dalam satu sesi wawancara, jadi aku tidak membaca tulisannya. Kemudian aku pun melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus kutanyakan pada peserta seleksi sebelumnya. Tidak ada yang istimewa di dalam pertanyaan itu. Hingga panitia seleksi mengingatku waktu wawancara dengannya telah berakhir, akupun memberinya sebuah pertanyaan yang hanya kutanyakan kepadanya.

"Kamu tahu siapa saya?"

"Ya, saya tahu. Kak Daniel kepala bagian cerpen," jawabnya sambil tersenyum kemudian pergi untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya. Sebenarnya aku ingin sekali memberikannya celetukan kalau nama kami sama. Tapi suasana serius dalam ruangan wawancara seleksi klub itu tidak memberikanku kesempatan.

Selesai seluruh peserta di wawancara, aku, Lukman, dan teman-teman kelas 3 lainnya pun pamit kepada seluruh panitia dan peserta untuk mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah. Bimbingan belajar mungkin lebih lazim untuk disebutkan. Kembali lagi, pikiranku hanya mengingat belajar, belajar, dan belajar.

Tidak ada yang begitu istimewa di hari itu. Termasuk wawancara itu, setidaknya aku belum menganggap itu semua istimewa. Namun esok hari mulai menunjukkan padaku kalau hari kemarin adalah hari yang istimewa. Pagi-pagi aku harus berangkat ke sekolah meskipun hari itu adalah hari Minggu. Aku harus menghadiri seleksi klub seni.

SMA tempat aku belajar hanya memiliki satu klub seni namun memiliki berbagai bagian. Mulai dari seni rupa hingga seni pertunjukan. Ada yang mengatakan klub penulis seharusnya masuk dalam klub seni, karna karya sastra juga termasuk dalam seni. Namun hal tersebut tidak terjadi di sini. Berbeda dengan klub penulis yang memperbolehkan seluruh bagian mewawancarai seluruh peserta seleksi klub. Di sini aku hanya dapat mewawancarai peserta klub seni bagian seni rupa karena di situlah bagianku.

Sebelum sesi wawancara, seluruh peserta seleksi berbaris terlebih dahulu. Nama mereka dipanggil satu persatu oleh panitia untuk dikonfimasi terlebih dahulu kehadiriannya.

"Daniella!" seru Yola, kepala bagian divisi seni tari. Begitu nama itu dipanggil, rasanya tubuhku tersentak sendirinya. Aku langsung melirik-lirik barisan peserta seleksi. Ternyata memang benar, dia adalah Daniella yang kemarin kuwawancarai, namun kali ini dia mengikat rambutnya ke belakang seperti kuncir kuda. Kuat juga dia mengikuti dua seleksi berturut-turut, pikirku.

Karena peraturan seleksi klub ini begitu ketat, tak sedetik pun mata kami saling bertemu. Bahkan saat pulang aku harus mengikuti rapat senior yang tak mengizinkan aku untuk berjumpa dengannya sebentar saja. Dan hal inilah yang membuat tidurku di malam hari tidak nyenyak. Tak berhenti memikirkannya.

Pagi kembali lagi dan aku pun begitu bersemangat pergi ke sekolah. Tak ada hari libur dalam seminggu terakhirku. Namun tak ada yang bisa memadamkan api semangatku. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin sekali berbicara dengannya. Aku sangat ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi begitu bel istirahat berbunyi nyaliku langsung ciut. Suatu tradisi seorang peserta seleksi untuk meminta seluruh seniornya tanda tangan di sebuah buku identitas mereka agar di terima dalam klub tersebut.

Tak kuat menahan perasaanku, aku sudah lebih dulu cerita ke Lukman tentang dirinya. Lukman, yang sudah memiliki pacar yakni sekretaris klub kami, hanya tertawa. Begitu dia datang ke kelas kami jantungku pun berdetak semakin kencang. Tak kusangka Lukman yang kupikir tidak peduli karena hanya tertawa, ternyata membantuku. Dia mengarahkan Daniella untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku.

Melihat Lukman yang begitu banyak membantuku untuk lebih mengenalnya. Aku mencoba memberanikan diri untuk bercerita pada Yola. Kami begitu dekat sejak aku menggambar dia dan teman-temannya yang sedang latihan menari. Secara pribadi, aku memang suka tarian tradisional. Melalui Yola aku mendapatkan informasi dan kesempatan yang lebih banyak. Apa lagi ketika dia lulus di klub seni dan Yola mengajar di sana sebagai senior.

Bukan perjuangan yang mudah jika ada yang mencoba bertanya. Aku membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk akhirnya bisa menyatakan suka padanya secara langsung. Begitu banyak hal yang menjadi pertimbangan dan nasehat yang menjadi motivasi. Hingga akhirnya untuk pertama kali aku menyatakan perasaanku secara langsung kepada siswi kelas 1 itu. Dan pada saat itu pula untuk pertama kalinya ada yang menyatakan kalau dirinya juga suka kepadaku secara langsung.

Namun selang beberapa minggu, tidak semuanya sebahagia yang kubayangkan. Aku kembali menjadi diriku yang pencundang. Hanya berani berbicara padanya melalui secarik kertas yang bertuliskan kata-kata indah. Aku tidak tahu sejak kapan air mataku mulai mengalir. Hingga akhirnya semua itu berakhir. Dan itu bermula dari keputusannya, bukan aku. Aku menghormati keputusannya meskipun aku pernah memintanya untuk kembali namun tak berhasil.

Kehilangannya menyisakan kesedihan dalam hatiku. Apalagi setelah mengetahui kalau ia sudah bersama orang lain. Aku teringat beberapa hari yang lalu aku bermimpi tentangnya dan kejadian yang menyesakkan dada bergabung menjadi satu. Mungkin masih ada sebuah ruang dalam hatiku yang tak mampu melupakannya.

"Mama!" teriak seorang anak kecil menghentikan kilas balikku. Ia memeluk kaki Daniella kemudian Daniella pun mengangkatnya dan menggendongnya.

"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa Kak Daniel, sulit dipercaya kita bisa bertemu di sini."

"Ah iya, sudah lama sekali," jawabku dengan singkat meski getaran yang tidak berbeda terjadi dalam dadaku. Aku tidak mengerti apa yang salah dengan diriku. Aku sudah menyaksikannya sendiri dia sudah berkeluarga, mengapa aku masih seperti ini?

"Itu anak kakak kah?" tanyanya memandang Riemu.

"Ah, bukan, dia...."

"Keponakan," sambung Riemu singkat.

"Wah, pasti sedang liburan keluarga besar ya sampai bawa keponakan ke mari."

"Begitulah, kurang lebih."

"Siapa nama gadis cantik ini?" tanya Daniella menghampiri seseorang yang dipanggilnya gadis cantik itu.

"Riemu," jawabnya lagi dengan singkat.

Tiba-tiba saja anak laki-laki yang digendong Daniella merengek. Daniella pun sibuk membuatnya tenang. Dan di saat itulah seorang anak perempuan yang terlihat lebih tua dibandingkan yang digendongnya pun berteriak sambil berlari memanggilnya, "Mamaaa!"

"Ya, sayang?"

"Papa sudah memanggil, kita akan pergi lagi."

"Maaf ya Kak Daniel, saya duluan ya."

"Ya, hati-hati ya," jawabku sambil melambaikan tangan. Dan dia pun pergi menuju keluarganya, kebahagiannya, keistimewaan yang selalu ada untuknya.

Begitu singkat pertemuan kami, begitu banyak kenangan yang kembali terkuak. Sedikit lagi lebih lama berbincang dengannya mungkin aku sudah tenggelam dalam samudera masa lalu. Meskipun dulunya dia tidak memanggilku dengan "kak" dan menyebut dirinya dengan "saya" setelah dia menerima perasaanku. Tetap saja kedua kata itu rasanya begitu mengental untuk didengar.

"Daniel, kenapa kamu menangis?" tanya Riemu menatapku.

"Ah, aku kelilipan," sebuah kebohongan basi terlontar begitu saja saat aku mengusap air mataku. Sebelum tangan kiriku terjatuh kusempatkan sejenak melihat jam tanganku. Sebentar lagi, jam makan siang, sudah saatnya kami mulai memikirkan untuk makan di mana. Tapi, dua digit angka yang lebih menarik lagi ditampilkan oleh jam tanganku yang juga berfungsi sebagai kalender. Tanggal delapan bulan delapan.

Aku menghadapkan wajahku ke langit. Menutup mataku sejenak. Sudah 18 tahun saja semua itu berlalu. Lebih dari setengah usiaku sudah. Namun tetap tak bisa kukeluarkan semua ingatan itu, semua perasaan itu. Riemu pun hanya diam tanpa kata sambil tetap menggengam erat tanganku.

Inikah kebahagiaan yang kuharapkan itu?



download
alternative link download